Categories
Pembelajaran Pendidikan

RPP 1 lembar / halaman

RPP 1 lembar/ halaman mengagetkan praktisi pendidikan. RPP 1 lembar/halaman menjadi hot issue terbaru akhir 2019. RPP 1 lembar/ halaman salah satu implementasi dari 4 (empat) pokok kebijakan “Merdeka Belajar” Nadiem Anwar Makarim Mendikbud RI . Apakah harus Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ini dibuat 1 lembar / halaman saja? Jangan buru-buru … baca dulu …

Rujukan RPP 1 lembar / halaman

RPP 1 lembar/ halaman menjadi diskusi dinamis praktisi pendidikan baik guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, pengamat pendidikan maupun pembina pendidikan lainnya.  RPP menjadi 1 lembar / halaman bukanlah perintah ataupun peraturan. Admin mendasarkan pendapat ini pada Surat Edaran Mendikbud No. 14 tahun 2019 tentang Penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Dalam edaran yang ditujukan kepada seluruh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota seluruh Indonesia ada 4 (empat) hal yaitu:

  1. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dilakukan dengan prinsip efisien, efektif, dan berorientasi pada murid.
  2. Bahwa dari 13 (tiga belas) komponen RPP yang telah diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah, yang menjadi komponen inti adalah tujuan pembelajaran , langkah-langkah (kegiatan) pembelajaran, dan penilaian pembelajaran (assessment) yang wajib dilaksanakan oleh guru, sedangkan komponen lainnya bersifat pelengkap.
  3. Sekolah, kelompok guru mata pelajaran sejenis dalam sekolah, Kelompok Kerja Guru/Musyawarah Guru Mata Pelajar an (KKG/ MGMP), dan individu guru secara bebas dapat memilih, membuat, menggunakan, dan mengembangkan format RPP secara mandiri untuk sebesar-sebesarnya keberhasilan belajar murid.
  4. Adapun RPP yang telah dibuat tetap dapat digunakan dan dapat pula disesuaikan dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada angka 1, 2, dan 3.

Sebagai tambahan Surat Edaran Mendikbud No. 14 tahun 2019 tentang Penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) di atas dilampiri narasi tanya jawab sebagai berikut:

Apa yang menjadi pertimbangan penyederhanaan RPP?

Guru-guru sering diarahkan untuk menulis RPP dengan sangat rinci sehingga banyak menghabiskan waktu yang seharusnya bisa lebih difokuskan untuk mempersiapkan dan mengevaluasi proses pembelajaran itu sendiri

Apa yang  dimaksud dengan   prinsip  efisien, efektif  dan  berorientasi pada  murid?

  • Efisien berarti penulisan RPP dilakukan dengan tepat dan tidak menghabiskan banyak waktu dan tenaga.
  • Efektif berarti penulisan RPP dilakukan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
  • Berorientasi pada murid berarti penulisan RPP dilakukan dengan mempertimbangkan kesiapan, ketertarikan, dan kebutuhan belajar murid di kelas.

Apakah RPP dapat dibuat dengan singkat, misalnya hanya satu halaman?

Bisa saja, asalkan sesuai dengan prinsip efisien, efektif, dan berorientasi kepada murid. Tidak ada persyaratan jumlah halaman.

Apakah ada standar baku untuk format penulisan RPP?

Tidak ada. Guru bebas membuat, memilih, mengembangkan, dan menggunakan RPP sesuai dengan prinsip efisien, efektif, dan berorientasi pada murid

Bagaimana dengan format RPP yang sudah dibuat guru?

  • Guru dapat tetap menggunakan format RPP yang telah dibuatnya.
  • Guru dapat pula memodifikasi format  RPP yang sudah dibuat sesuai dengan prinsip  efisien,  efektif, dan berorientasi kepada murid
  • Guru dapat pula memodifikasi format RPP yang sudah dibuat sesuai dengan prinsip  efisien, efektif, dan berorientasi kepada murid

Berapa  jumlah komponen dalam RPP?

  • Ada 3 komponen inti, yaitu tujuan pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran (kegiatan), dan penilaian pembelajaran (asesmen). Komponen-komponen lainnya adalah pelengkap.
  • Tujuan pembelajaran ditulis dengan merujuk kepada kurikulum dan kebutuhan belajar murid. Kegiatan belajar dan asesmen dalam RPP ditulis secara efisien.

Berdasarkan isi surat edaran tidak secara tegas menyatakan RPP 1 lembar / halaman namun menjawab suatu pertanyaan dimungkinkan RPP 1 lembar / halaman. RPP 1 lembar / halaman tersurat dalam jawaban Mendikbud yang dikutip dalam blog Kemendikbud https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2019/12/mendikbud-tetapkan-empat-pokok-kebijakan-pendidikan-merdeka-belajar

Komponen RPP menurut Permendikbud No. 22 tahun 2016

Komponen RPP menurut Permendikbud No. 22 tahun 2016 meliputi :

  • identitas sekolah yaitu nama satuan pendidikan;
  • identitas mata pelajaran atau tema/subtema;
  • kelas/semester;
  • materi pokok;
  • alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan beban belajar dengan mempertimbangkan jumlah jam pelajaran yang tersedia dalam silabus dan KD yang harus dicapai;
  • tujuan pembelajaran yang dirumuskan berdasarkan KD, dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan;
  • kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi;
  • materi pembelajaran, memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator ketercapaian kompetensi;
  • metode pembelajaran, digunakan oleh pendidik untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai KD yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan KD yang akan dicapai;
  • media pembelajaran, berupa alat bantu proses pembelajaran untuk menyampaikan materi pelajaran;
  • sumber belajar, dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam sekitar, atau sumber belajar lain yang relevan;
  • langkah-langkah pembelajaran dilakukan melalui tahapan pendahuluan, inti, dan penutup; dan
  • penilaian hasil pembelajaran.

Komponen RPP 1 lembar sesuai Surat Edaran Mendikbud No. 14 tahun 2019

Komponen minimal yang harus ada pada RPP edaran Mendikbud adalah sebagai berikut :

  • tujuan pembelajaran yang dirumuskan berdasarkan KD, dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan;
  • langkah-langkah pembelajaran dilakukan melalui tahapan pendahuluan, inti, dan penutup; dan
  • penilaian hasil pembelajaran.

Sesungguhnya bagi admin, RPP model ini menyisakan pertanyaan-pertanyaan seperti berikut ini :

  1. Apakah hanya 3 (tiga) hal itu yang akan dituliskan?
  2. Tidakkah kita ingin menuliskan identitas sekolah meski dengan versi minimal?
  3. Tidakkah kita ingin menuliskan identitas mapel, isi KD atau minimal nomor KD?
  4. dan beberapa pertanyaan lainnya …
CONTOH / MODEL RPP 1 LEMBAR
rpp 1 lembar
rpp 1 lembar
rpp-1-lembar
rpp-1-lembar

Bagaimana dengan rekan-rekan? Ok … demikian dulu diskusi RPP 1 lembar atau RPP 1 halaman

Sumber : Surat Edaran Mendikbud No. 14 tahun 2019

Categories
Supervisi teknologi informasi dan komunikasi

Nomor Halaman Berbeda MSWord

Nomor halaman berbeda diterapkan pada karya ilmiah. Nomor halaman berbeda tampak pada disertasi, tesis, skripsi, laporan penelitian, karya ilmiah, best practice dll. Bagaimana membuat nomor halaman berbeda pada MSWord?

Contoh Nomor Halaman Berbeda

nomor halaman berbeda
nomor halaman berbeda

Nomor halaman berbeda sudah menjadi standar penulisan karya ilmiah. Setidaknya sepengetahuan penulis seperti pada penulisan best practice. Nomor halaman dibuat agar memudahkan pembaca mengakses isi karya tulis dengan mudah dan cepat. Aturan yang lazim ialah (1) Bagian pendahuluan biasanya menggunakan angka romawi kecil ditulis di bagian bawah tengah. (2) Bagian isi yang meliputi bab-bab pembahasan menggunakan nomor halaman dengan angka arab. Pada awal bab nomor halaman diletakkan di bawah tengah halaman sedang lanjutannya diletakkan di atas kanan halaman. Sebagian rekan masih ada yang belum biasa (kalau bisa nya pasti bisa) menerapkan aturan penulisan seperti itu menggunakan MSWord. Akibatnya seringkali karya tulis yang seharusnya satu file kemudian dipisah-pisah menjadi beberapa file.

nomor halaman berbeda
nomor halaman berbeda

Membuat nomor halaman mungkin dapat dilakukan dengan beberapa cara. Namun admin hanya bisa yang berikut ini saja …

Fitur penunjang pada MSWord

Nomor halaman berbeda dapat kita buat menggunakan MSWord. Untuk melakukan hal ini kita perlu sedikit lebih jeli lagi mengenali fitur penunjang yang tersedia pada MSWord. Fitur pembuatan nomor halaman khususnya berada pada kelompok fitur header dan footer. Namun pengaturannya berkaitan juga dengan kelompok perintah pada Page Layout khususnya pada Insert Page dan Sections Break.

Insert Page sudah admin sarankan digunakan pada penambahan halaman (walaupun masih kosong) pada postingan Penulisan Best Practice. Nah untuk melengkapi uraian pembuatan nomor halaman berbeda kita akan menggunakan dokumen yang diilustrasikan pada postingan penulisan best practice tersebut. Admin berasumsi pembaca mencoba contoh yang disarankan tersebut atau bisa menyesuaikan dengan contoh dokumen anda sendiri.

Seperti diketahui bagian pendahuluan biasanya menggunakan nomor halaman angka romawi kecil dan bagian isi menggunakan nomor halaman dengan angka arab. Nah … kedua bagian ini perlu dipisahkan dengan memberi tanda Section Break > Next page (karena harus ke halaman baru). Setelah pemberian tanda ganti section dan sekaligus ganti halaman ini barulah pemberian nomor halaman dapat diterapkan.

Nomor halaman sejenis maupun tidak sejenis peletakannya di tempatkan pada bagian header atau footer halaman. Karena itu fitur lain yang perlu pembaca cermati adalah fitur atau kelompok perintah ini. Peletakan nomor halaman di bagian atas berarti ditempatkan pada header sedang peletakan di bawah halaman berarti berada pada footer.

Langkah membuat nomor halaman berbeda

Nah … sekarang tiba saatnya kita praktekkan persiapan dan pemberian nomor halaman ini. Dokumen kerangka penulisan best practice yang sudah ditambahkan halaman kosong seperti pada postingan penulisan best practice terdiri atas 18 halaman. Bagian awal nantinya harus bernomor angka romawi kecil dan bagian isi dengan angka arab. Langkah-langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:

  1. Tempatkan kursor pada posisi paling kiri dan paling atas sebelum huruf B pertama pada halaman BAB 1, berikan perintah Page Layout > Breaks > Section Break Next Page
  2. Hasil perintah tersebut pada halaman sebelumnya muncul tanda garis putus-putus <Section Breaks Next Page>
  3. Pindahkan kursor halaman sebelum halaman judul
  4. Insert, Page Number, Format Page Number
  5. Tentukan Number format : angka romawi kecil , Start at : i , OK
  6. Insert, Page Number, Bottom of page/Plain Number 2
  7. Dari langkah 6 di atas, Close Header Footer
  8. Dari halaman judul dengan Backspace hapus halaman kosong sehingga halaman judul menjadi halaman i dan halaman sebelum BAB 1 adalah halaman viii.
  9. Pindahkan kursor ke awal BAB 1 untuk membuat nomor halaman dengan angka arab. Pada judul bab nomor halaman diposisikan di bawah sedang halaman lanjutannya diposisikan di atas.
  10. Insert, Page Number, Format Page Number
  11. Tentukan Number format : angka arab , Start at : 1 , OK
  12. Insert, Page Number, Top of page / Plain Number 3
  13. Klik Different first page dan matikan Link to previous
  14. hapus no halaman awal bab di bagian header kemudian pindah ke footer beri nomor halaman
  15. Lakukan hal serupa pada halaman bab-bab selanjutnya …

Nah … dengan sedikit tambahan kejelian … pasti bisa diselesaikan pemberian nomor halaman berbeda ini. Ok … begitu dulu … posting berikutnya dapat kita lanjut pada pembuatan Daftar Isi Otomatis / mudah diupdate. Semoga menginspirasi ….

Categories
Supervisi Uncategorized

Style MSWord

Style MSWord sangat bermanfaat. Apa sih style MSWord itu? Bagaimana membuat, mengubah dan pemakaiannya? Ikuti diskusi ringan ini tentang style msword dan penggunaannya …

style msword
style msword

Mengenal Style MSWord

Menggunakan msword bagi penulis tidak lebih hanya sekedar memenuhi tuntutan tugas yang memerlukan olak-alik kata. Oleh karena itu sejujurnya saya tidak begitu menguasai penggunaan aplikasi MSWord ini. Namun pada suatu saat luang ada juga muncul pertanyaan … mengapa disediakan Styles … pasti ada maksud dan tujuannya hingga suatu saat mempraktekkan sendiri dan asyik. Hingga sekarang sudah cukup sering admin menggunakan Style MSWord.

Style atau styles menurut translate nya google bisa diartikan gaya atau corak model. Sedangkan kita tahu MSWord adalah aplikasi pengolah kata sehingga style msword dapat kita maknai gaya atau corak model penulisan kata. Tampak pada contoh yang tertera pada gambar di atas. Secara default instalasi … ada berbagai style yang sudah terpasang seperti Header secara bertingkat 1 Header 2 dst, style normal, style list dan lain-lain. Banyak dari kita yang tidak memanfaatkan style default ini karena gaya atau corak model nya tidak cocok dengan keperluan umum kita seperti font New Times Roman atau Arial. Supaya sesuai dengan keperluan kita maka kita perlu membuat sendiri style.

Membuat Style Baru

Sebagai persiapan Penulisan Best Practice kita akan membuat style Heading_Bab, Langkah-langkah membuat style baru adalah sebaga berikut:

Kllik pada New Style (ikon kiri bawah) sehingga muncul menu dialog Create New Style. Name diisi dengan nama style yang kita buat. Style type biarkan tetap paragraph. Style based on pilih Heading No 1. Di bawah isian tersebut tampak pemformatan yang muncul secara default merujuk pada posisi kursor saat itu. Kita bisa mengatur format dari ikon2 yang nampak, atau secara lebih lengkap pada tombol Format di bawah. Sesudah semua pengaturan dan formating selesai, Klik Ok.

style msword
dialog membuat style msword baru

Memakai Style Buatan Kita

Pemakaian style baru yang kita buat caranya sangat mudah. Semua teks yang diberi style yang sama akan memiliki format tulisan yang seragam. Jika format style yang dikenakan diubah maka otomatis perubahan diterakan pada seluruh teks yang formatnya sama tersebut. Hal ini tentu menghemat waktu mengatur format secara manual.

Keuntungan menggunakan style

Penerapan style sangat membantu dan praktis. Ada beberapa keuntungan yang bisa kita dapat dan inilah yang membuat penulisan best practice menjadi lebih cepat mengubah dan merapikan. Keuntungan yang penulis maksud sekurang-kurangnya :

  1. proses editing best practice lebih cepat dan tingkat kerapian terstandar.
  2. judul bab, sub bab dan list yang berupa header akan dapat dimasukkan sebagai unsur daftar isi secara otomatis dan uptudate berikut nomor halamannya. Otomatis yang dimaksud hanya dengan memberi perintah / tombol.

Sekurang-kurangnya dua keuntungan itulah yang sangat membantu. Tentu ada keuntungan lain yang dapat kita temukan di kesempatan lain. Ok. Demikian diskusi ringan … Mengenal Style MSWord … semoga menginspirasi …

Categories
Supervisi

Penulisan Best Practice

Penulisan best practice pada berbagai jenjang kurang lebih serupa. Teknik penulisan best practice harus diterapkan peserta. Bagaimana Penulisan best practice pengawas sekolah?

Membahas teknik penulisan suatu karya ilmiah bisa dianggap penting gak penting. Sudah banyak para pakar yang membahas. Namun demikian … semoga saja catatan kecil dari pengalaman pribadi penulis ini tetap berguna.

Penulisan Best Practice – Ketentuan Panitia

Penulisan best practice pengawas sesuai pedoman pemilihan pengawas sekolah berprestasi 2019 secara umum dinyatakan sebagai berikut:

  • Jumlah halaman karya 15-20 halaman tidak termasuk lampiran, kertas ukuran A4.
  • Sampul depan yang digunakan pada karya best practice sebagaimana ditunjukkan pada gambar di atas.
  • Karya diketik dengan spasi 1,5; huruf Times New Roman; ukuran huruf 12; batas tepi/margin kiri 4 cm, kanan 3 cm, atas 3 cm, dan bawah 3 cm. Khusus untuk ukuran huruf tabel dan gambar disesuaikan dengan kebutuhan.
  • File karya Best Practice dibuat dalam satu file yang utuh tidak terpisah-pisah antara judul-kata pengantar-daftar isi-bab-daftar pustaka.

Di atas adalah satu contoh ketentuan penulisan dari panitia penyelenggara. Ketentuan tersebut perlu untuk diacu oleh peserta misalnya pada pemilihan pengawas sekolah berprestasi 2019 yang lalu.

Sistematika Penulisan Best Practice

Penulisan best practice umumnya juga telah ditentukan panitia sistematikanya. Berikut adalah contoh sistematika penulisan laporan pengalaman terbaik pengawas sekolah tahun 2019.

1.    Bagian Awal

Bagian ini terdiri atas halaman judul (cover), halaman pernyataan keaslian karya yang ditandatangani, halaman lembar persetujuan dari atasan langsung dan atau pejabat terkait, abstrak atau ringkasan, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, dan daftar lampiran.

2.    Bagian Isi

Bagian isi terdiri atas:

Bab  Pendahuluan,  berisi  latar  belakang,  masalah,  tujuan,  dan  manfaat  best practice yang dilaksanakan.

Bab Kajian  Pustaka, berisi teori, kebijakan,  pedoman dan/atau praktik  yang dijadikan rujukan dalam menyelesaikan masalah.

Bab Metode, berisi tentang prosedur dan perangkat  atau instrumen, dan cara pemecahan masalah.

Bab  Hasil  dan  Pembahasan,  Penyajian  dan  analisis  data  yang  mencakup keadaan awal, proses, dan hasil akhir yang diperoleh dari hasil pelaksanaan serta dampaknya bagi komunitas sekolah.

Bab Simpulan dan Rekomendasi

3.      Bagian Penutup Berisi daftar pustaka dan lampiran-lampiran.

Kerangka Penulisan

Berdasarkan ketentuan penulisan best practice di atas dan juga sistematika selanjutnya dibuat kerangka penulisan. Gambaran isi kerangka penulisan pengalaman terbaik dengan menerapkan ketentuan-ketentuan tersebut di atas dapat dicontohkan sebagai berikut:

penulisan best practice
penulisan best practice

Dengan kerangka yang telah disusun seperti pada contoh di atas, lebih mudah bagi kita untuk menuliskan isi yang seharusnya diuraikan.

Pengetikan Kerangka pada MS Word

Penulisan pengalaman terbaik menggunakan MSWord dapat kita mulai dari dokumen baru. Langkah-langkah yang dilakukan seperti berikut:

  1. Membuat dokumen baru
  2. Mengatur ukuran kertas dokumen A4
  3. Mengatur marjin kiri, kanan, atas, bawah masing-masing 4 cm, 3 cm, 3 cm, 3 cm.
  4. Ketik isi bakal kerangka best practice (seperti contoh di atas)
  5. Blok semua baris teks, pilih font New Times Roman ukuran 12, spasi 1,5.
  6. Pada setiap awal baris dengan huruf kapital lakukan penyisipan / pemaksaan halaman baru (Insert > PageBreak)

Setelah langkah 6 dikerjakan seluruhnya, kita dapatkan dokumen dengan judul bab dan sub bab yang benar sesuai desain kerangka walaupun isi uraian masih kosong. Anda lah yang akan mengembangkan isinya sesuai jumlah halaman yang diijinkan.

Posting berikutnya akan membahas pembuatan nomor halaman berbeda dan daftar isi secara otomatis jadi kita tidak perlu repot mengganti daftar isi yang uptodate atau sesuai editan terakhir.

Ok demikian diskusi Penulisan Best Practice … semoga menginspirasi.

Categories
Supervisi

Best Practice Pengawas Sekolah

Best practice pengawas sekolah bukti prestasi kerja. Best practice pengawas sekolah unsur penilaian Pengawas Sekolah Berprestasi 2019. Best practice pengawas sekolah patut diteladani.

best practice pengawas sekolah
best practice pengawas sekolah

Tugas dan Tanggung jawab Pengawas Sekolah

Pengawas Sekolah adalah jabatan fungsional yang mempunyai ruang lingkup tugas, tanggung jawab dan wewenang untuk melaksanakan kegiatan pengawasan akademik dan manajerial pada satuan pendidikan. Pengawas Sekolah adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang diberi tugas, tanggung jawab dan wewenang secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan pengawasan akademik dan manajerial pada satuan pendidikan. Kegiatan pengawasan adalah kegiatan Pengawas Sekolah dalam menyusun program pengawasan, melaksanakan program pengawasan, evaluasi hasil pelaksanaan program, dan melaksanakan pembimbingan dan pelatihan profesional Guru.

Pengertian Best Practice Pengawas Sekolah

Best practice dapat diartikan sebagai pengalaman terbaik yang pernah dan atau masih dilakukan. Frasa pengawas sekolah merujuk kepada jabatan yang memiliki tugas, tanggung jawab menyusun program pengawasan, melaksanakan program pengawasan, mengevaluasi hasil pelaksanaan dan melaksanakan pembimbingan dan pelatihan profesional guru.

Best practice pengawas sekolah dapat diartikan sebagai pengalaman terbaik seorang pengawas sekolah dalam menyusun program pengawasan, melaksanakan pengawasan, mengevaluasi pengawasan maupun melaksanakan pembimbingan dan pelatihan guru.

Contoh Best Practice Pengawas Sekolah

Best practice pengawas sekolah dapat berwujud beraneka bentuk. Tentu saja tidak ada satu bentuk baku mengingat ini adalah pengalaman terbaik masing-masing pengawas sekolah. Sekedar contoh, penulis menyampaikan best practice dengan judul “Pemanfaatan Cloud Computing untuk Meningkatkan Ketersediaan Dokumen Supervisi pada Sekolah Binaan di Kota Banjarmasin”.

best practice pengawas sekolah
best-practice-pengawas-sekolah-1

Best practice pengawas sekolah yang penulis ajukan pada ajang Pemilihan Pengawas Sekolah Berprestasi Tahun 2019 ini menceritakan pengalaman terbaik penulis sebagai pengawas sekolah dalam melaksanakan program pengawasan. Syukur alhamdulillah … karya sederhana ini mendapat apresiasi sebagai Juara 2 Pengawas Sekolah Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2019 yang lalu.

Pedoman Pembuatan Best Practice Pengawas Sekolah

Best practice pengawas sekolah menurut pedoman terdiri atas tiga bagian utama yaitu bagian awal, bagian isi dan bagian penutup.

Bagian awal meliputi halaman judul (cover), halaman pernyataan keaslian karya yang ditandatangani, halaman lembar persetujuan dari atasan langsung dan atau pejabat terkait, abstrak atau ringkasan, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, dan daftar lampiran.

Bagian isi terdiri atas:

  • Bab Pendahuluan, berisi latar belakang, masalah, tujuan, dan manfaat best practice yang dilaksanakan.
  • Bab Kajian Pustaka, berisi teori, kebijakan, pedoman dan/atau praktik yang dijadikan rujukan dalam menyelesaikan masalah.
  • Bab Metode, berisi tentang prosedur dan perangkat atau instrumen, dan cara pemecahan masalah.
  • Bab Hasil dan Pembahasan, Penyajian dan analisis data yang mencakup keadaan awal, proses, dan hasil akhir yang diperoleh dari hasil pelaksanaan serta dampaknya bagi komunitas sekolah.
  • Bab Simpulan dan Rekomendasi

Bagian Penutup berisi daftar pustaka dan lampiran-lampiran

Teknik Penulisan Best Practice Pengawas Sekolah

Pada umumnya teknik penulisan best practice di berbagai jenjang kurang lebih serupa. Teknik penulisan best practice telah diatur sebagai berikut:

  • Sampul depan yang digunakan pada karya best practice sebagaimana ditunjukkan pada gambar di atas.
  • Jumlah halaman karya 15-20 halaman tidak termasuk lampiran, kertas ukuran A4.
  • Karya diketik dengan spasi 1,5; huruf Times New Roman; ukuran huruf 12; batas tepi/margin kiri 4 cm, kanan 3 cm, atas 3 cm, dan bawah 3 cm. Khusus untuk ukuran huruf tabel dan gambar disesuaikan dengan kebutuhan.
  • File karya Best Practice dibuat dalam satu file yang utuh tidak terpisah-pisah antara judul-kata pengantar-daftar isi-bab-daftar pustaka.

Pada teknik penulisan ini menurut penulis yang menjadi tantangan adalah pada aturan item ke 4 yaitu karya best practice ditulis menjadi satu file tidak terpisah antar bagian. Hal ini meminta kita menerapkan teknik penulisan dokumen dengan beberapa teknik yang jarang digunakan (beberapa yang lain mungkin rajin atau tidak tahu karena diketikkan orang lain).

ASPEK keaslian best practice Pengawas sekolah

Best practice pengawas sekolah sangat menekankan keaslian naskah. Hal ini diukur dengan pengecekan similaritas karya dimana peserta pemilihan diminta mengirimkan naskah dalam format MS word. Karya best practice maksimal boleh memiliki similaritas maksimal 30 %. Oleh karena itu, penulis menyarankan agar rekan-rekan menekan sekecil mungkin ‘copy paste’ yang kadang tidak kita sadari jumlahnya.

Demikian diskusi kecil tentang Best practice pengawas sekolah . Semoga bermanfaat bagi rekan-rekan yang memerlukannya.

Categories
Pendidikan Supervisi

Pengawas Sekolah

Tentang Pengawas Sekolah

Pengawas sekolah salah satu tenaga kependidikan yang penting. Pengawas sekolah sempat diragukan keberadaannya. Apa dan bagaimana peran pengawas sekolah? Mari kita diskusikan …

Pengawas Sekolah adalah jabatan fungsional yang mempunyai ruang lingkup tugas, tanggung jawab dan wewenang untuk melaksanakan kegiatan pengawasan akademik dan manajerial pada satuan pendidikan.

pengawas sekolah

Pengawas SD/SMP/SMA/SMK adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang diberi tugas, tanggung jawab dan wewenang secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan pengawasan akademik dan manajerial pada satuan pendidikan (wikipedia)

Kegiatan pengawasan adalah kegiatan dalam menyusun program pengawasan, melaksanakan program pengawasan, evaluasi hasil pelaksanaan program, dan melaksanakan pembimbingan dan pelatihan profesional Guru.

Kedudukan Pengawas Sekolah

(1) Pengawas Sekolah berkedudukan sebaqai pelaksana teknis fungsional di bidang pengawasan akademik dan manajerial pada sejumlah satuan pendidikan yang ditetapkan.

(2) Jabatan ini sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah jabatan karier yang hanya dapat diduduki oleh Guru yang berstatus sebagai PNS.

Tugas Pokok Pengawas Sekolah

(3) Tugas pokok seorang Pengawas adalah melaksanakan tugas pengawasan akademik dan manajerial pada satuan pendidikan yang meliputi penyusunan program pengawasan, pelaksanaan pembinaan,  pemantauan pelaksanaan 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan, penilaian, pembimbingan dan pelatihan profesional Guru, evaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan, dan pelaksanaan tugas kepengawasan di daerah khusus.

Rumpun Jabatan

(4) Jabatan fungsional Pengawas adalah jabatan fungsional yang termasuk dalam rumpun pendidikan lainnya.

Beban Kerja

(1) Beban kerja Pengawas Sekolah adalah 37,5 (tiga puluh tujuh setengah) jam perminggu di dalamnya termasuk pelaksanaan pembinaan, pemantauan, penilaian, dan pembimbingan di sekolah binaan.

Bidang Pengawasan

(2) Sasaran pengawasan bagi setiap Pengawas Sekolah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sebagai berikut:

a. untuk taman kanak-kanak/raudathul athfal dan sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah paling sedikit 10 satuan pendidikan dan/atau 60 (enam puluh) Guru;

b. untuk sekolah menengah pertama/madrasah tsanawiyah dan sekolah menengah atas/madrasah aliyah/sekolah menengah kejuruan/madrasah aliyah kejuruan paling sedikit 7 satuan pendidikan dan/atau 40(empat puluh) Guru mata pelajaran/kelompok mata pelajaran;

c. untuk sekolah luar biasa paling sedikit 5 satuan pendidikan dan/atau 40 (empat puluh) Guru; dan

d. untuk pengawas bimbingan dan konseling paling sedikit 40 (empat puluh) Guru bimbingan dan konseling.

(3) Untuk daerah khusus, beban kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling sedikit 5 (lima) satuan pendidikan secara lintas tingkat satuan dan jenjang pendidikan.

Bidang pengawasan meliputi pengawasan taman kanak-kanak/raudhatul athfal, sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah, pengawasan rumpun mata pelajaran/mata pelajaran, pendidikan luar biasa, dan bimbingan konseling.

Jenjang Jabatan Pengawas

(1) Jabatan fungsional Pengawas merupakan jabatan tingkat keahlian.

(2) Jenjang jabatan fungsional Pengawas dari yang terendah sampai dengan yang tertinggi, yaitu:

  • a. Muda;
  • b. Madya; dan
  • c. Utama.

(3) Jenjang pangkat sebagaimana dimaksud pada ayat 2 sesuai dengan jenjang jabatannya, yaitu:

a. Muda:

  • 1. Penata, golongan ruang Illlc; dan
  • 2. Penata Tingkat I, golongan ruang Illld.

b. Madya:

  • 1. Pembina, golongan ruang IV/a;
  • 2. Pembina Tingkat I, golongan ruang IV/b; dan
  • 3. Pembina Utama Muda, golongan ruang IV/c.

c. Utama:

  • 1. Pembina Utama Madya, golongan ruang IV/d; dan
  • 2. Pembina Utama, golongan ruang IV/e.

(4) Jenjang jabatan/pangkat sebagaimana dimaksud pada ayat (3), adalah jenjang jabatan/pangkat berdasarkan jumlah angka kredit yang dimiliki untuk masing-masing jenjang jabatan.

(5) Penetapan jenjang jabatan fungsional ditetapkan berdasarkan jumlah angka kredit yang dimiliki setelah ditetapkan oleh pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit sehingga dimungkinkan jabatan/pangkat tidak sesuai dengan jabatan/pangkat sebagaimana dimaksud pada ayat (3).

Demikian diskusi seputar jabatan pengawas sekolah. Semoga bermanfaat.

SUMBER :
PERATURAN BERSAMA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL DAN KEPALA BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA NOMOR 01/III/PB/2011 NOMOR 6 TAHUN 2011